You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.

Sistem Informasi Desa Ciaro

Kec. Nagreg, Kab. Bandung, Prov. Jawa Barat

HALAL BIHALAL PEMERINTAH DESA CIARO


HALAL BIHALAL PEMERINTAH DESA CIARO

CIARO - Rabu, Tanggal 15 Mei 2022 Pemerintah Desa Ciaro mengadakan Halal Bihalal dengan semua Lembaga di Desa, unsur masyarakat, Camat Nagreg, Kepala Desa Se-Kecamatan Nagreg,  Danramil 2402 Cicalengka, Polsek Nagreg, dan stakeholder lainnya yang ada di Kecamatan Nagreg yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Tausiyah yang di isi oleh Bapak H. SUGIANTO, S. Ag., M. Si dari KETUA DPRD KAB. BANDUNG, yang bertema Hakikat Kemenangan Setelah Romadhon Untuk Menjadi Insan Robbani dan Dengan Semangat Halal Bihalal Mari Kita Tingkatkan Ukhuwah Islamiyah Untuk Desa Ciaro Maju.

 

 

 

Mengenal ucapan “Halal Bihalal” dan “Minal Aidin Wal Faidzin”. Siapakah  Sosok yang telah mempopulerkan dua Kalimat tersebut di Indonesia, Khususnya di pulau Jawa ?

Dialah sang putera fajar, Soekarno. Presiden Indonesia pertama paling kharismatik ini di tahun 1958 mengucapkan kalimat “Minal Aidin Wal Faidzin” pada hari raya Idul Fitri.

Kalimat tersebut adalah penggalan sebuah doa yang lebih panjang yang diucapkan ketika kita selesai menunaikan ibadah puasa yang berarti “Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan."

Dari ucapan Soekarno itulah kalimat “Minal Aidin Wal Faidzin” pada hari raya Idul Fitri, menjadi kalimat wajib kaum Islam. Populer dari sejak tahun diucapkannya sampai saat ini.

Pun, kalimat Halal bi Halal yang juga telah menjadi bagian budaya kita di bulan Syawal. Tidak cukup saling mengucapkan Minal Aidin Wal Faidzin saja, tapi kebiasaan yang dianggap keharusan ini terpelihara sampai saat ini.

Soekarno pula yang memberikan istilah Halal bi Halal tersebut. Walau tentunya konteks saat Soekarno memberi istilah (sekitar tahun 1946) dengan sekarang berbeda jauh.

Sejarawan JJ Rizal menyampaikan, bahwa Halal bi Halal dipicu dengan kondisi Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan. Dimana, di masa itu Soekarno dihadapkan dengan revolusi sosial dan struktur negara baru yang lemah serta mewarisi birokrasi buatan Jepang.  Perpecahan politik, ideologi dan konflik antar kelompok meruncing dimana-mana.

Kondisi tersebut membuat Soekarno cemas. Ide untuk mempertemukan para pimpinan politik muncul pada bulan Ramadan 1946.

Ide itu diperkuat juga dengan harapan sejumlah tokoh yang menghubungi Soekarno serta meminta adanya perayaan Lebaran pada bulan Agustus dengan mengundang seluruh komponen revolusi yang berbeda dalam pendirian politik maupun kedudukannya dalam masyarakat.

Gayung bersambut. Pertemuan para tokoh tersebut berlangsung dan Soekarno memberi istilah  'Halal bi Halal’ yang diartikan sebagai silaturahmi dan saling memaafkan. Sejak itu, seperti pernah dilansir Tempo, 2006,  istilah  Halal bi Halal  populer sebagai  ucapan di Hari Raya Idul Fitri.

Dilansir dali halaman Web https://www.malangtimes.com/baca/39538/20190602/123200/inilah-sosok-yang-mempopulerkan-frasa-halal-bi-halal-dan-minal-aidin-wal-faidzin.

Bagikan artikel ini:
Komentar